Elemen Mutu SPME

Bagi Sebagian Komunitas Akademik, Kata Akreditasi Sering Dianggap Sebagai Persiapan Dokumen Oleh Satu Tim Ad-Hoc Yang Lamanya 3-4 Bulan (Tergantung Kepada Waktu Yang Disediakan Anggota Tim). Kegiatan Penyiapan Dokumen Ini Akan Diulang Lagi Menjelang Masa Akreditasi Akan Berakhir. Dokumen Pada Periode Berbeda Biasanya Disusun Oleh Tim Ad-Hoc Berbeda (Dalam Banyak Kasus Adalah Dosen Baru dan Tenaga Kependidikan). Dokumen Yang Sudah Disusun Dengan Susah Payah Ini, Sering Dilupakan Begitu Saja Setelah Visitasi Akreditasi Rampung. Baru Kemudian Menjelang Akreditasi Berikutnya, Tim Baru Kewalahan. Penyebabnya Adalah Karena Ternyata Banyak Rekomendasi Perbaikan Yang Tertera Pada Dokumen Akreditasi Lama, Khususnya Pada Dokumen Evaluasi Diri, Tidak Di Tindaklanjuti Selama Lima Tahun Terakhir. Aspek Ini Menjadi Kekurangan Yang Signifikan dan Sorotan Keras Pada Saat Visitasi Berlangsung.

Praktek Ini Sungguh Disayangkan, Karena Akreditasi Sesungguhya Ialah Salah Satu Bentuk Sistem Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Eksternal. Sebagai Bagian Penjaminan Mutu, Pada Akreditasi Ditunjukkan Proses Perbaikan Berkelanjutan Yang Dilakukan Pada Proses Pendidikan, dengan Akreditasi Ini Pula Ditunjukkan Bentuk Akuntabilitas Publik Terkait Sistem Pelaksanaan Misi dan Pencapaian Visi Institusi Oleh Program Studi Yang Di Akreditasi Maupun unit Penangung Jawab Yaitu Fakultas/Program Studi.

Pemahaman Yang Perlu Ditanamkan Ialah Bahwa Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Bukan Hanya Terkait Prosedur, Proses dan Dokumentasi Yang Terkait Dengan Proses dan Prosedur Tersebut, Namun Lebih Kepada Pembentukan Budaya Penjaminan Mutu. Dokumen Proses, Prosedur Hanya Merupakan Alat Untuk Menunjukkan Bahwa Proses Perbaikan Kelanjutan (Continous Imrovement) Berjalan. Demikian Juga Dengan Pemahaman Bahwa Akreditasi Semata-mata Terkait Penyiapan Dokumen, Sehingga Urusan Ini Cukup Diserahkan Kepada Tim Ad-Hoc Yang Anggotanya Dosen Baru dan Tenaga Kependidikan, Perlu Diluruskan. Pembentukan Budaya Pada Suatu Lingkungan Fakultas/Program Studi Tentulah Menjadi Tanggung Jawab Bersama Pimpinan Akademik dan Komunitas (Academic Leaders) Di Lingkungan Fakultas/Program Studi Yang Bersangkutan Yaitu Dekan, Ketua Program Studi.

Mengambil Tanggung Jawab Atas Isi Dokumen Akreditasi Dengan Menetapkan Garis Besar Isi Dokumen, Membimbing dan Memantau Kemajuan Penyusunan, Duduk Bersama Melakukan Review Terhadap Dokumen dan Memperhatikan Tenggang Waktu Penyerahan Dokumen Merupakan Bentuk Tanggung Jawab Dekan Sebagai Seorang Pimpinan Akademik Yang Menaruh Perhatian Terhadap Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement) Di Tingkatan Fakultas/Program Studi dan Akuntabilitas Pelaksanaan Tugasnya. Proses Ini Juga Selayaknya Dimanfaatkan Sebagai Media Kaderisasi, Untuk Dapat Mengidentifikasi Personil-Personil Unngulan (Lulusan Terbaik) Untuk Dapat Ikut Serta Mengelola Institusi dan Mengembangkannya Lebih Jauh Untuk Mewujudkan Program Studi Unggulan.

Kemudian Hal Terpenting Ialah Menggunakan Bentuk Rekomendasi Yang Telah Tersusun Pada Dokumen Evaluasi Diri Sebagai Bentuk Pedoman Untuk Menyusun Rencana Tindakan Perbaikan Secara Bertahap Dalam Lima Tahun Kedepan (Rencana Pengembangan Jangka Menengah/RPJM) Sebagai Pengganti Dokumen Renstra (Rencana Strategis 5 Tahunan). Pastikan Realisasi Kegiatannya.

Apabila Langkah-Langkah Ini Dilaksanakan Dengan Semestinya, Maka Dalam Waktu Singkat, Mutu Program Studi dan Fakultas Yang Bersangkutan Dapat Dengan Cepat, Tingkat Kepercayaan Masyarakat Akan Meningkat, Calon Mahasiswa Berkualitas Yang Tertarik Akan Semakin Bertambah dan Proses Keseluruhannya Menjadi Satu Keistimewaan (Kualitas Mutu Institusi Perguruan Tinggi) Tersebut.

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 62 times, 1 visits today)